<maybe Repost> Rini, Dina, dan Roni
Agen Poker BandarQ Online ituPoker .Taruhan Bola Online
.
.
Agen DominoQQ Ceme Online ituDewa
www.pokervovo.com .Judi Casino dan Togel Online Indonesia
. Situs Bandar Qiu Terbesar & Jamin Bayar 2015
.ww.bursabet.net
www.pokerkiukiu.com
QQDomino.net Bandar Domino QiuQiu Domino Ceme Poker Online Terpercaya Bandar Judi Casino Online
agen bola .model dewasa
jual lagu karaoke online www.bosbola.com
www.lapakdewa.com www.lapakvegas.com
Agen Judi Togel Online Indonesia TogelNalo Agen Togel Indonesia Online KuponNalo
Results 1 to 1 of 1

Thread: <maybe Repost> Rini, Dina, dan Roni

  1. #1
    Korban Banci
    Bergabung
    Sep 2011
    Lokasi
    Hollywood, Florida, United States
    Posts
    27

    <maybe Repost> Rini, Dina, dan Roni

    Hari ini cuaca sangat cerah, aku menengadahkan kepalaku seraya berjalan keluar dari airport Surabaya. Aku kemudian melihat ke sekelilingku, mencari sesosok gadis dengan kuning langsat dan berbaju biru. Aku mengerutkan alisku sambil akhirnya mengodok tas tanganku dan mengambil handphone karena aku tidak dapat membedakan dimana Dina. Aku terpaksa menelpon HP nya dan akhirnya aku melihat gadis itu.

    Gadis itu bernama Dina, dia adalah sahabat dekatku sejak kecil, bahkan sejak dia pindah ke Surabaya kami masih tetap sering saling curhat. Dina memiliki kulit yang putih dan cukup halus dibandingkan aku, mungkin karena dia merupakan buah pernikahan campuran antara pribumi dan chinese. Dia memiliki tinggi kurang lebih 160 cm, sedikit lebih pendek dariku tetapi dadanya jauh lebih besar daripada dadaku yang hanya memakai bra 34A. Wajahnya yang cantik dan mulus membuat dia terlihat lebih dewasa dibandingkan aku, padahal kami seumuran.

    Kebetulan sekali tahun ini kedua orang tuaku berlibur ke Australia, sementara aku sendiri ingin tetap tinggal di Indonesia dan akhirnya aku memutuskan untuk terbang dari Jakarta – Surabaya untuk menjenguk Dina, karena sudah hampir 3 tahun aku tidak pernah bersua dengannya. Terakhir kami berpisah adalah sebelum kelas 3 *** sebelum ayah Dina dimutasikan ke Surabaya.

    Segera aku berlari ke arahnya dan segera memeluknya, “Dina yaa…..” sambil tersenyum aku melihat ke dalam matanya. Aku melihat dia sama terkejut seperti aku, tetapi akhirnya dia menyambut sapaanku “Riniiii yaaaa…. Aduhh pa kabarrrr, dah lama bangett, lu jadi beda banget sumpah,” kami segera berpelukan satu sama lain. Yah memang selama 3 tahun ini kami berdua juga sudah semakin dewasa, sehingga wajar bila kami tidak saling mengenali satu sama lain.

    Sambil berjalan menuju mobil Dina, aku bercakap-cakap dengannya mengenang kembali masa-masa lalu dimana kami masih sering berkhayal tentang pacar, idola-idola semasa *** dulu, dan juga keadaan kami sekarang.

    “Rin, lu masih jadian ya sama si Andre?” Tanya Dina kepadaku. “Gak tuh na, sejak dia berhasil ngajakin gw ML, sebulan kemudian dia malah ninggalin gw”. “Wah masa sih rin, lu akhirnya jadi juga ya ML ma dia? Bablas juga ya elu akhirnya ngasih perawan lu sama dia” Timpal Dina seraya membelokkan mobilnya di daerah Ahmad Yani.

    “Ya lu gak usah gitu lah na, toh uda kejadian, lagian emang gw pikirin tu masalah perawan ga perawan,” balasku dengan nada agak jengkel. Dalam hatiku aku berpikir, sejak itu pula aku jadi maniak seks walau aku malu mengakuinya, sehingga aku terpaksa menggunakan dildo dan vibrator sebagai ganti penis Andre yang cukup besar.

    Dina pun terdiam mendengar kata-kataku yang bercampur kejengkelan, sambil terus mengemudikan mobilnya. Akhirnya kesunyian itu terpecah juga “nahhh, sampe deh rinnn. Nih rumah gw” “oh iya, papi mamiku lagi pergi lowh 2 minggu ini, jadi kita bakal bebas banget lowh rin hehehe….” Sambung Dina dengan nada riang. Segera dia membuka pintu dan menunjukkan kamarku selama 1 bulan itu.

    “Nah rin, ini kamar yang gw janjiin buat lu nginep disini” sambil tersenyum membukakan pintu kayu yang berukir. Aku melihat ke dalam dan menghela napas karena kamar itu sangat mewah dengan kamar mandi dalam, aku bahkan dapat mengatakan kamar ini lebih mewah daripada hotel pada umumnya.

    “Rin,” kata Dina memecahkan kekagumanku, “Hari ini pacar gw dateng, namanya Roni, lu jangan ke ruang tamu ya nanti pas dia dateng. Soalnya hari ini gw janji mau petting sama dia lagi” Oh, well ternyata dia juga sama aja tuh sama gw cuman beda belom diperawanin doang, pikirku agak kesal dalam hati. “Iya deh na, lagian kan salah gw janji dateng besok malah datengnya hari ini” ujarku sambil tertawa.

    ***

    Akhirnya malam itu aku menonton TV di kamarku karena aku tahu Dina akan menggunakan ruang tamu sebagai tempat bermesraannya. Ditengah iklan, pikiranku melayang dan memikirkan apa yang dilakukan Dina saat ini.

    Dengan rasa penasaran itu akhirnya aku mematikan TV dan keluar mengendap-endap. Aku berjalan menuju dinding di dekat ruang tamu dan mengintip Dina. Aku duduk di dekat dinding itu sambil menguping dan sesekali melihat dari sisi dinding.

    Dibalik dinding itu, aku melihat Roni sedang dioral oleh Dina. Perawakan Roni cukup tinggi dengan otot yang lumayan kekar, membuat dia terlihat gagah di mataku. Hal yang paling aku perhatikan dari Roni adalah bahwa ukuran penisnya yang besar dan panjang, lebih besar dari punya Andre dulu.

    Clap… Clap… Clap… “Nghhh…. Uhmm…” terdengar suara Dina yang sedang mengoral penis Roni. “Ah, enak na… terusin na….” “Ghhhh…. Iya Ron….” Aku melihat Dina sedang memegang penis Roni sambil menjilat-jilat batang penisnya. Ahh, ternyata punya Roni cukup besar, pikirku. Cplok….Cplok…. Cplok… Dina memulai aksinya mengulum kepala penis Roni sementara tangannya tetap memegang batang penis Roni dan mengocoknya seirama dengan jilatan dan kuluman mulut Dina. Sesekali terlihat Dina memasukkan batang penis itu sampai amblas ke mulutnya. Cplok… Cplok… Cplok…. “Uhhh, naaaaaa…. Gw mo kluar nihhhh, gw kluarin di mulut yah yank…” “Ngghhh… hhhhh…” ujar Dina sambil tetap mengulum penis itu tanpa berhenti. Aku tidak tahu kapan Roni mengeluarkan pejunya, tetapi aku melihat sisa-sisa sperma Roni menetes di dagu Dina. Tak lama, aku melihat mereka berdua berganti posisi, aku melihat Vagina Dina sedang diciumi dan dijilat-jilat oleh Roni. Ahhhhh… aku tak tahan lagi menahan nafsuku dan aku memutuskan untuk kembali ke kamar.

    Setiba di kamarku, aku segera mengeluarkan dildo yang ada di tasku, sengaja aku bawa dari Jakarta apabila sewaktu-waktu aku “menginginkannya”. Barang itu berwarna pink dan memiliki panjang 24 cm dengan diameter kurang lebih 3,4 cm dan 2 buah kepala penis di tiap ujungnya. Aku kadang menggunakan ujung dildo yang satu untuk dimasukkan ke dalam anusku. Aku sangat menyukai sensasi ketika anusku dimasukkan seperti ketika dulu aku sering melakukan dengan Andre mantanku. Aku menuangkan pelumas pada dildo kesayanganku ini dan segera memasukkannya ke dalam liang vaginaku. Aku terangsang berat karena memikirkan kejadian di ruang tamu dan mulai melenguh dan mengeluarkan suara-suara “Ahhhhh…… hhaaahhhhh…. Hahhhh…uhhhmmmm…” Aku merasakan liang vaginaku semakin basah dan terdengar suara becek dari dalamnya. Aku mempercepat kocokanku dan segera merasakan nikmat luar biasa, aku mencapai orgasme pertamaku hari itu. “Uhhhhhhhhh….. enaaakkk bangettttt…. Hhhuuuuuhhh… andai aja ada yang mau nemenin aku…. Hhhh…”

    CKLEK! Aku terkejut setengah mati mendengar pintu kamarku TERBUKA! Astaga, aku lupa mengunci pintuku! Dari balik pintu Dina melongo sambil melihat aku bermain dengan dildo tersebut.

    “Rin… astaga lu lagi ngapain?!?!” Ups… gw ketangkep basah lagi “make” dildo gw. Akhirnya gw nekat ngajakin Dina buat make tu dildo barengan sama gw. “Na, sini dong… temenin gw make ni dildo. Gw lagi horny banget nih na.” Dina menyipitkan matanya sambil berkata, ”hayo, lu tadi liat-liat gw kan lagi oral sama Roni, makanya lu terangsang gitu?” Dina terkekeh sambil ngedeketin gw.

    Dia mengambil alih batang dildo yang masih menancap di liang vaginaku sambil mendekatkan wajahnya ke arah vaginaku. Dikocoknya batang dildo itu sambil menciumi bagian klitorisku. Ahhhhhhh gila, rasanya enak banget, lebih dari biasanya gw maenin sendirian. “ummmmhhh… clap… claaappp…” suara jilatan dan ciuman Dina pada klitorisku membuatku semakin terangsang, apalagi disertai dengan kocokan tangannya pada dildo itu membuat daerah sensitive di dalam vaginaku membuatku semakin memuncak. “AAAhhhhhhHHhhhh…. Dinaaaaaaa……. HhhhhhhHHHhhhh…. Gw gak tahan naaaaaaa….. uuuuhhhhh……” Perasaanku melayang seiring Orgasmeku yang semakin memuncak. Rasanya jauh lebih enak dibandingkan orgasmeku yang pertama, aku bahkan tidak pernah merasakan hal ini ketika aku ML dengan Andre.

    “Uh… lu hebat banget sih ngeseks pake mulut, na?” “hehehe… iyaa dong, kan uda sering praktek sama Roni” Tak terelakkan tawa pun meledak antara kami berdua. “Rin, lu kesepian ya ditinggalin si Andre, makanya lu sampe bawa-bawa tu dildo kesini?” Mendengar komentar Dina, aku merasa sangat malu sekali dan mungkin wajahku saat itu sudah seperti kepiting yang baru direbus. “iya sih na, tapi gitu gw liat lu lagi bercumbu sama Roni, birahi gw makin ngejadi ditambah gw juga uda gak pake tu dildo sekitar seminggu lebih.”

    “Rin, lu mau gak kalo nanti gw petting lagi lu ikutan bareng gw? Si Roni pengen banget ML tuh, katanya sih bareng mantannya dia uda berkali-kali cuman gw masih belom berani ML bareng dia. Rin, kalo bareng lu, gw rasa gw bisa deh nyoba pertama kali gw sama Roni.” Sekejap aku membelalakkan mataku, Dina masih perawan ternyata, pantas saja dia tidak mau ikut memasukkan dildo itu kedalam vaginanya tadi. Sejenak aku berpikir dan menimbang-nimbang “Ya udah oke deh na.” Dina tersenyum lebar, “asik, besok janji ya lu ajarin gw ML bareng.” Ujar dina sambil meninggalkan kamarku.

    Dalam hatiku aku masih tidak dapat mencerna perkataanku yang baru saja aku lontarkan, Oh my God, gw baru nyetujuin buat ngelakuin Threesome?! Aku melihat langit-langit kamarku dan tanpa banyak berpikir lagi aku mencoba untuk tidur dan akhirnya terlelap.


    ***

    Keesokan paginya, aku mendengar suara motor memasuki halaman rumah Dina. Aku melihat keluar jendelaku dan melihat Roni sedang memasuki rumah sambil bercumbu mesra dan mencium Dina di halaman depan. Ah, otak ku mulai mengkhayalkan aku dan Roni berciuman mesra seperti yang mereka lakukan dibawah.

    Aku baru ingat janjiku dengan Dina kemarin, hari ini aku akan melakukannya bertiga…. Ah, aku membayangkan penis besar itu memasuki tubuhku. Segera kusingkirkan pikiran kotorku dan bersiap-siap mandi. Aku mengambil handuk dan bajuku yang sudah kususun di lemari kamarku ketika aku tiba. Baru saja aku meraih baju favoritku yang bergambar Mickey Mouse, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.

    Tok… Tok… Tok… “Rin, lu lagi apa di dalem? Sini yok gw kenalin sama Roni nih yang kemaren gw ceritain.” ujar Dina dengan nada datar seraya berpura-pura tidak terjadi apapun kemarin malam. Segera aku menyambar daun pintu dan membukakan pintu agar mereka masuk. Aku tersipu malu ketika melihat wajah Roni yang ternyata jauh lebih ganteng daripada kemarin ketika aku mengintipnya dari kejauhan.

    “Halo Rin, gw Roni… Kemaren malem Dina cerita banyak banget tentang elu” ujarnya sambil tersenyum manis padaku. “Halo juga Ron” timpalku membalas sapaannya sambil membalas senyumannya.


    Baru saja kami selesai bersalaman, tiba-tiba Dina menarik lengan Roni ke arah tempat tidurku yang belum dirapikan. Tak pelak Roni kebingungan atas tindakan Dina dan membisiki Dina sesuatu. Belum sempat Roni menyelesaikan bisikannya pada Dina, Dina malah balas menutup mulutnya dengan cara menciuminya dengan ganas. Awalnya Roni segan membalas ciuman itu didepanku tetapi lama kelamaan dia membalasnya dengan penuh nafsu. Cplak… terdengar suara bibir mereka beradu dan lidah mereka saling memilin satu sama lain.

    Dina mulai membuka kancing Roni satu demi satu, sementara aku melihat adegan panas itu sambil mulai menginginkannya juga. Segera aku mendekati mereka dan mulai menciumi dada Roni yang terlihat dibalik kancing kemejanya. Aku menjilati dadanya yang bidang sambil mulai membuka resleting celananya. Sesaat Dina berhenti mencium Roni dan mulai melucuti pakaian kami bertiga. Aku membantunya sambil memperhatikan betapa besar dada Dina dan penis Roni yang sekarang tidak lagi tertutup sehelai benang pun.

    Tiba-tiba aku merasakan tangan Roni mulai meremas-remas pantatku. Sementara Dina tidak kalah dengan aksinya yang tetap menciumi Roni, namun tangan kanannya mulai menjamah dadaku turun ke bagian celana piyamaku yang belum dilepasnya dari tubuhku. “Hhhhh…. Ahhhhh… Ren….. gw masukin ya tangan gw ke memek lu” ujar Dina sambil tangannya mulai menjelajah buas memasuki celana dalamku, sementara Roni tetap menciumi Dina sambil memeluknya dan mengelus-elus punggungnya yang putih dan mulus. Ah, aku bisa merasakan jari jemari Dina mulai merogoh-rogoh bagian kewanitaanku yang sudah lama tidak tersentuh orang lain selain diriku. Tangan kanan Roni mulai merambah dadaku dan dia mulai menciumiku.

    Awalnya ciuman kami masih sedikit malu-malu, mungkin karena kami baru saja berkenalan dan Dina menyaksikannya di depan kami. Kocokan Dina semakin kuat dibagian bawah tubuhku sementara aku melihat mulutnya mulai merambah batang penis Roni. Dia mulai menjilat-jilat kepala penis itu dan Cplok…. Dia mulai mengulumnya bagaiakan lollipop. Melihat keadaan itu aku semakin terangsang dan ciuman kami mulai mengganas dibandingkan sebelumnya. Cplak… cplak… cplakk…. “ummmmmhhhh… ngggghhhhh…. Haaaa….” Suaraku dan Dina mulai menggema dalam ruangan itu. Tangan kiri

    Roni mengusap-usap rambut Dina sementara tangan kanannya mulai menggantikan tangan Dina memasuki lubang kemaluanku. Mulutnya menjauh dari mulutku yang masih menginginkan ciuman itu, menuju ke daerah sensitifku. Roni mulai menjilati klitorisku, menciumi vaginaku dan mulai memasukkan lidahnya ke dalam liang vaginaku. Ah, aku mulai merasa melayang dan mendapatkan orgasmeku. “Uhhhhhhhhh….. enak bangettt ronnnn….. terusin plissss…….. Ahhhhhh…. Haaaaaaahhhhhh….” “iya Rin…. Gw juga udah mo sampe……. Naaaaa, jangan berenti yahhh….” Dina mulai mempercepat ritme pergerakan kulumannya di penis Roni, sementara gerakan lidah Roni terasa semakin ganas dalam lubang kemaluanku.

    “AAAAAAAhhhhhhHHHhhhh…. Gw sayang elu Ron…. Naa….. terusssinnn plisss, enakk bangeettt….” Aku mulai menceracau tak karuan. Aku merasa enak sekali dan tiba-tiba saja ada aliran dalam kemaluanku yang kemudian muncrat keluar dan membasahi mulut Roni. Seketika aku panik dan mengubah posisiku mendekati wajahnya “Wah….. maaf banget Ron, gw gak sengaja…. Gw gak tau apa itu… lu gak apa-apa?” “Sante Rin, normal kali lu ngluarin cairan kek gitu” senyum Roni membalas perkataanku. “Rin, jadi kek gitu yah squirting tuh” ujar dina seraya terkekeh menanggapi pertanyaanku. Rupanya Roni baru saja berejakulasi di mulut Dina, aku melihat sperma membasahi mulut Dina ketika dia menjawab pertanyaanku.

    Aku diam dan tersipu malu, baru kali ini aku merasakan orgasme yang sedahsyat itu dan membuatku menginginkannya lagi. Dina melihat mukaku yang merah padam, dia tersenyum simpul sambil mulai menciumi aku dengan rasa sperma Roni yang tercampur di mulutnya. Udah lama banget aku gak pernah ngerasain rasa ini dimulutku, rasanya aneh dan enak menurutku. “mmmmmmhhhh…. “ lidahku mulai bergerilya diantara mulut Dina, aku rasakan lidahku menari dalam mulutnya, menyusuri dinding atasnya dan terkadang lidah kami saling terpaut dan memilin satu sama lain.

    Karena ciuman kami yang begitu ganas, aku tidak memperhatikan Roni yang sudah memasang kondom dan siap meluncurkan rudalnya ke dalam vaginaku. Ketika aku mulai memperhatikan apa yang dilakukan Roni, aku merasa enak sekali karena kepala penisnya mulai menempel di lubang kewanitaanku. Bless…. Terdengar suara liang vaginaku yang basah dimasuki oleh Roni. “ouuuuucchhhhh….. haaaaaaahhhhhhhh…. Ahhhhh….. mmmmm…. Enaaakkk bangeeettt” sudah lama aku tidak merasakan penis cowok memasuki tubuhku. Seketika aku merasa sangat enak dan tanganku mulai meraih payudara Dina yang montok dan kenyal. Aku mulai meremas-remasnya sambil tetap berciuman, sementara aku merasakan lubangku dikerjai oleh Roni.

    Beberapa menit kemudian aku mendapatkan orgasmeku lagi. “hhhhhhhahhhhHHHHH, aku orgasme sayangggggg…… AAAhhhhhh…..” “Iyaaaaa…. Aku jugaaaa sayaanggg….”, terasa ada semburan hangat yang mengalir ke dalam rongga kewanitaanku. Roni segera mencabut batang penisnya dari lubang vaginaku dan aku dapat melihat semprotan cairan kental dari lubang vaginaku dan sisa-sisa sperma Roni yang keluar dari vaginaku. Roni segera menjilati sisa-sisa cairan itu di vaginaku.

    “Rin, kayaknya elu ngerasa enak banget ya dimasukin sama Roni….” Ujar Dina seraya memandangi vaginaku yang basah. “Ron, aku juga mau dong digituin…” terdengar suara Dina yang antusias dan penuh gairah. “Kan uda gw bilang sama elu na dari dulu, ML ma gw enak banget, sekarang liat Rini baru percaya kan sama gw,” ujar Roni sambil menggodanya. Kami pun tertawa ketika mendengar canda Roni saat itu.

    “Ya udah na, lu sekarang balik sana dong” ujar Roni meminta Dina untuk membalikkan badannya ke arah ranjangku. “Loh emang mo diapain ron? Koq gw disuruh nungging gini sih?” Tanpa penjelasan, Roni memulai aksinya menjilati punggung Dina, sementara aku mulai menjilat-jilat jari jemari Dina, mengarah ke bagian pundaknya. Aku dapat melihat dengan jelas vagina Dina yang udah basah banget dielus-elus Roni. Aku terangsang lagi melihat kejadian itu dan duduk menghadap Dina.

    Aku menyodorkan vaginaku ke arah Dina dan memintanya untuk menjilatinya. “Na, jilatin dong memek gw, mau kan?” Tanpa menjawab, Dina mulai menjilati vaginaku dengan muka terangsang berat. “Ron… gw terangsang abis niihhhh…. Pengen bangett nyobainnnn…. Masukinnn kontolmu pliss…” “Sabar dong sayang…. Ga usah buru-buru gitu” jawab Roni sambil memainkan vagina Dina dengan mulutnya.

    “Nggghhhhhh….. hhhhh…” Dina melenguh sambil tetap menjilati vaginaku yang basah tercampur dengan cairan mani Roni dan cairanku. Roni mulai mengarahkan penisnya ke arah vagina Dina “Tahan ya sayang, aku mau masuk ke memek kamu nihhhh…” Didorongnya batang penis itu kedalam, pertama hanya masuk seperempat, kemudian setengah, kemudian Bleshhhhh…. Batang kemaluan Roni mengisi vagina Dina. “Aucchhhh, sakiiitt sayang pelan-pelan dong…” ringis dina kesakitan sambil ada setitik air mata keluar dari matanya. Aku kemudian turun dari ranjang dan mengusap air mata diwajahnya. “ga apa-apa dina sayang, pertama-tama emang sakit tapi ntar juga enak koq…” sambil mendekatkan wajahku dan mulai menciuminya dengan lembut.
    Roni mulai mengocok penisnya di dalam vagina Dina, sementara aku mulai menikmati ciumanku dengan Dina. Di awal ciuman Dina masih sangat lemah, mungkin karena dia menahan sakitnya ditembus rudal Roni yang berukuran besar. Lama kelamaan ciuman itu mulai memanas dan ritme pergerakan lidah kami semakin cepat, menyesuaikan pergerakan penis Roni yang mengocok-ngocok vagina Dina dari belakang. Dina mulai terbangun dari posisinya yang menempel pada ranjang. Saat itu, tanganku mulai meraba-raba payudara Dina.

    Cplok…. Cplokkk….. cplookkk….. Suara penis Roni beradu dengan vagina Dina yang basah membuatku mulai terangsang kembali. Tanganku membimbing tangan kanan Dina untuk memasuki memekku yang sudah sangat basah. Tanpa ragu, Dina memasukkan 2 jarinya ke dalam vaginaku, sementara tangan kirinya menumpu beban tubuhnya sambil terus menciumi aku. “Uhhhhhhhhh…. Enaakkkk gaaa Rinnnn???? Gw enakkkkk bangeeettt nihhhh ditusuk-tusuk sama Roniii kayak giniiiii……. Sayaaannggg, terusssiiinnn dooonggg enakkk bangettt…” Roni menjawab perkataan Dina dengan memompa vagina Dina dengan lebih keras.

    “AAhhhhhhhh….. Ohhh Myyy Gooooddddd….. Gilaaaaaaaaaa, enaaakkkkk hhhhhhhhh, gw saaammmppee nihhh yaaankkkk….” Ujar Dina menceracau, sementara Roni tetap memompa vaginanya dengan cepat dan aku meremas-remas buah dadanya.
    Setelah orgasmenya yang pertama, Roni membaringkan Dina di tempat tidur dan memasukkan kembali penisnya yang sudah tercampur darah perawan Dina. Roni kembali menikmati vagina Dina sementara aku tetap menciumi Dina dengan posisi menungging ke arah Roni. Sesekali Roni menjilati vaginaku sambil tetap berkonsentrasi pada genjotannya sambil kami bertiga mencapai klimaks lagi bersamaan.

    Setelah kami menyelesaikan kegiatan threesome kami yang pertama, aku meminta izin untuk mandi. Di luar dugaanku Dina malah meminta untuk mandi bersama bertiga. Aku agak terkejut tapi akhirnya aku menyanggupi permintaan itu, begitu juga Roni walaupun dia meminta waktu sebentar untuk beristirahat dan membiarkan keringat kami bertiga kering dahulu sebelum mandi.

    Sejam setelah kami melakukan seks bersama, aku mengajak mereka ke kamar mandi untuk mandi bersama. Aku membawa handuk dan pakaianku ke dalam sementara Dina pergi membawa sprei bekas yang ternoda darah untuk dicuci keesokan harinya oleh pembantu di rumahnya. Ketika Dina kembali, dia membawa bajunya dan baju ganti untuk Roni. Kami pun masuk bertiga ke dalam kamar mandi di kamarku.

    Kamar mandi itu memiliki shower dan bathtub berwarna putih mengkilap. Aku meletakkan bajuku diatas meja yang sudah tersedia disamping wastafel. Kami pun mandi bertiga dan saling menyabuni satu sama lain sambil bercanda ria.
    Tak lama kemudian ketika kami masih saling menyabuni satu sama lain, tiba-tiba saja tangan Roni diselipkannya masuk kedalam vagina Dina. Melihat hal itu aku semakin terangsang, apalagi mendengar Dina mulai menceracau kembali “ahhhhhh, ronnnn, sayaanggg lu ngapaaaainnn….. uhhhhh…. Enaakkkkk…”

    Aku tak dapat menahan diri dan mulai memegang penis roni. “Bagus ya, pake acara gak ngajak-ngajak aku nihhh…” crokk… crook… croookkk…. Tanganku mulai mengocok dan memainkan penis Roni dengan sabun. “Naaahhhh kenaa luuuu…. Enak ga Ron? Ngaku dehh” ujarku seraya tersenyum pada Dina. “ahHHhhhh, iyaaa enakk Rinnn…” timpal Roni sambil tetap mengocok vagina Dina.

    Setelah beberapa saat, aku melepaskan penis roni dan mengisyaratkan padanya untuk memasukkannya ke dalam vagina Dina. Dia menuruti isyaratku dan mulai menggenjot Dina kembali, sementara payudaraku diremas-remas dan dihisap olehnya. “hhhhh…. Enaakkkk…. Lagiiii donggg ronnn…”

    Setelah Dina orgasme, Roni mencabut rudalnya dari vagina Dina dan memasukkannya ke dalam vaginaku. Rasanya enak sekali, mungkin karena aku sudah lama tidak melakukan seks ditambah lagi penis roni yang berukuran besar menjelajahi rongga vaginaku yang sudah basah. Cplakkkk…. Cplakkk… cplakkk…. Suara kocokannya di dalam rongga vaginaku semakin membuatku terangsang. Dina meremas-remas payudaraku dan menciumi Roni.

    “AAAaaahhhhhhhhhhHhhh, akuuu sampeee Ronnnnn…” Roni menunggu aku menyelesaikan klimaks yang aku rasakan. Tak lama kemudian Roni kembali memasukkan penisnya ke vagina Dina. Dia mempercepat kocokannya dan mereka berdua mencapai klimaks juga setelah aku.

    Setelah kami bertiga sama-sama mencapai klimaks, kami melanjutkan acara mandi bersama kami dan menikmati hari itu dengan beristirahat dan berjalan-jalan melihat kota Surabaya. 2 minggu itu kami habiskan dengan seks bertiga dan menghabiskan waktu kami bersama-sama.

    Sampai saat aku kuliah, apabila ada waktu kami masih sering melakukannya apabila aku menjenguk Dina. Dengan alasan pergi jalan-jalan bertiga, kami sering melakukannya di hotel atau dirumah Dina ketika tidak ada orang. Pernah sesekali Dina datang ke Jakarta tanpa ada roni, kami melakukannya berdua dengan menggunakan bantuan Dildo kesayanganku. Aku selalu melakukannya bertiga, selain itu aku dan dina sama-sama wanita, sehingga tidak ada satu pun keluarga Dina yang curiga dengan kegiatan kami.

    Sekarang aku sudah punya pacar dan pacarku sudah mengetahui hubungan kami, entah sesekali aku pergi ke Surabaya untuk melakukan bertiga dengan Roni atau Dina datang ke Jakarta untuk melakukannya bersama dengan pacar baruku. Oh ya, liburan mendatang kami semua mempunyai rencana untuk berjalan-jalan ke Bali dan melakukannya berempat!


    -End-
  2. # ADS
    Circuit advertisement
    Bergabung
    Always
    Lokasi
    Advertising world
    Posts
    Many
    BursaBet
     

Tags for this Thread

Agen Togel Nasional Online

Agen Judi bola Online
Agen Judi Poker Domino 99 Online

Agen Judi bola Online
Judi Poker Domino 99 ituQQ     Agen Judi Togel Online Asli4D