Yu Ginah...
Agen Poker BandarQ Online ituPoker .Taruhan Bola Online
.
.
Agen DominoQQ Ceme Online ituDewa
www.pokervovo.com .Judi Casino dan Togel Online Indonesia
. Situs Bandar Qiu Terbesar & Jamin Bayar 2015
.ww.bursabet.net
www.pokerkiukiu.com
QQDomino.net Bandar Domino QiuQiu Domino Ceme Poker Online Terpercaya Bandar Judi Casino Online
agen bola .model dewasa
jual lagu karaoke online www.bosbola.com
www.lapakdewa.com www.lapakvegas.com
Agen Judi Togel Online Indonesia TogelNalo Agen Togel Indonesia Online KuponNalo
Halaman 1 dari 2 12 LastLast
Results 1 to 20 of 25

Thread: Yu Ginah...

  1. #1

    Yu Ginah...

    sudah satu minggu yu ginah membantu ibuku dalam bisnis katering. kusebut yu, karena dia jauh banget usianya dibanding dengan diriku. aku baru menginjak 17 tahun, sedangkan yu ginah mungkin sudah 35 tahun. Yu ginah, rondo teles kata kang giman sopir ibuku. janda yang baru saja dicerai suami karena kang parto suaminya kawin lagi. badan yu ginah weweg banget, alias montok. kulitnya putih nemu giring. wajahnya khas jawa, hidungnya agak pesek. rambutnya hitam dan tebal dan selalu berbau harum khas cendana. itu yang membuatku selalu ingin berserobok dengannya, baunya itu selalu membuatku panas dingin dan membuatku nagih.

    sore itu udara sangat beringsang, maklum bulan september, sat-satnya sumber. ibuku menerima order besar, harus mempersiapkan konsumsi untuk pertemuan partai politik pak jenggot yang dihelat disebuah hotel besar di kotaku. kipas angin besar yang memutar diatas plafon dapur itu tidak mampu mengendus dan mengusir hawa panas yang berasal dari tungku api yang sedang memasak iga sapi. kulihat yu ginah..sangat gerah. dasternya yang tanpa lengan membasah. rambutnya yang tebal itu berkali-kali dikuncirnya. aku yang duduk disebelahnya jadi salah tingkah, karena selalu terlihat ketiaknya yang berbulu lebat itu terpampang jelas setiap kali yu ginah mengucir rambutnya. entah sadar atau tidak yu ginah telah membuatku mabok pada sore itu, berkali-kali kutelan ludahku ketika melihat bulu lebat hitam basah yang terpampang jelas diketiaknya. jelas yu ginah suka miara bulu ketek, dan dengan sengaja memamerkannya kepadaku. bahkan kulihat kerling matanya yang tajam dan sedikit senyuman dibibirnya ketika melihatku ngowoh melihat pameran itu. aroma tubuh dewasanya membuatku dudukku jadi salah tingkah, pelan-pelan ada yang memberontak dicelanaku. melihat reaksiku itu, yu ginah tambah sembrono dengan sengaja menyenggolkan ketiaknya itu diujung hidungku, ya sengaja karena tiba-tiba saja dia mengambil kuali besar yang terletak persis diatasku. aku hanya melongo dan dipaksa mencium aroma keringat yang tersembul dilipatan ketiaknya, aroma yang memabukkan tidak kecut tapi merangsang banget..., kuhirup pelan pelan aroma itu dan dengan sengaja yu ginah memberiku kesempatan untuk menghirup lekuk ketiaknya yang basah dan berbulu lebat itu. sempat kudengar bisiknya "...hmmm den bagus nikmati semua kelek yu ginah ya" dan dengan gerakan lambat yu ginah memamerkan utuh bentuk ketiaknya yang bulat gemuk dan penuh dengan hutan lebat itu. aku hanya tertegun dan dengan terbata-bata berusaha menikmati pemandangan langka itu. pelan tapi pasti tubuh bagian bawahku meremang dan membesar. melihat itu yu ginah tersenyum dan memencet hidungku, "..ah ada yang bangun tu den bagus" katanya manja..aku hanya tercegut mendengar cetusannya itu dengan reflek segera kuturunkan dos makanan itu untuk menutupi bagian bawahku yang mulai menonjol. melihat reaksiku itu yu ginah malah memepetkan tubuhnya dan menjejeri tempat dudukku. lengannya yang putih basah itu menempel dibahuku. semakin kucium aroma keringat yang memabukkan itu, parfum alamiah wanita dewasa yang baru dicerai suaminya. "den bagus ingin mencium langsung kelek yu ginah..." bisiknya ditelingaku, ahhhh berdesir jantungku dan terasa melayang merasakan hawa panas yang masuk dilubang telingaku. aku tidak bisa menjawab hanya tertunduk malu. sungguh diusiaku yang ke 17 ini aku seperti mendapat anugerah yang luar biasa, betapa tidak tubuh yu ginah yang hanya terbalut daster tipis dan lembab oleh keringat yang membuncah di sore terik itu betul-betul menempel erat di kulitku. jantungku tak henti-hentinya berdebar, cemas, senang dan ingin memciumi habis seluruh tubuh berkeringat disampingku itu, terlebih lagi bisa mengendus dan menguik-nguik keleknya yang basah itu.

    tiba-tiba yu ginah mengangkat tinggi-tinggi lengannya, dan membiarkan bebas mataku memeloti seluruh ruang yang ada di ketiaknya itu, bulunya yang hitam pekat terlihat basah oleh keringat, tercium paduan dahsyat antara deodorant dan bau keringat asli. pelan tangannya yang terangkat itu didekatkannya kemukaku, dan dengan sigap tangannya yang satu meraih kepalaku dan membenamkannya dikeleknya itu. aku hanya bisa manut dan dengan rakus kuciumi ketiak lebat itu, pelan keendus-endus, kuhirup dalam-dalam dan kujelajahi permukaan berambut basah itu. "ahhhhhh....enak dan geli den" desis yu ginah meresapi setiap hembusan nafas dan kecupan bibirku di ketiaknya itu. belum sempat kupuaskan rasa haus itu, tiba-tiba terdengar suara ibuku keras dari ruang dalam "...yu ginah sudah matang belum iganya?" yu ginah lalu melepaskan kepalaku dari jepitan ketiaknya, dan dengan mesra ditatapnya mukaku "...sttt nanti lagi ya den bagus" bisiknya sambil beranjak menuju ke adonan iga sapi itu. " sebentar den rara.." teriaknya sambil membenahi letak dasternya yang agak terbuka dibagian atasnya..., dengan masgul kulepas nafas berat sambil terus merasakan aroma tubuh yu ginah yang masih melekat erat diujung hidungku itu. mendengar helaan nafasku itu yu ginah, tersenyum dan memberi isyarat kepadaku untuk mendatanginya.

    Melihat isyarat dari yu ginah, pelan-pelan aku mendatanginya..melihat aku yang agak malu-malu, yu ginah malah menggeol-geolkan pantatnya yang besar, sambil tersenyum menatapku. Setelah suara ibu tidak terdengar lagi. Aku baru berani mendekatinya persis dibelakang pantatnya yang menggeol-geol tadi. Tercium baru merangsang dari tubuhnya yang bersimbah keringat di sore itu. Lehernya yang jenjang tampak mengkilat dihiasi rambut-rambut halus yang melingkar-lingkar. Ah…mimpi apa aku semalam, pikirku melihat tubuh weweg yu ginah, betul-betul semledot menarik-narik berahiku.

    Matahari sore yang terik sudah mulai redup, cahaya di dapur mulai agak suram. Membuatku semakin berani. Dengan terbata-bata aku mencoba memeluknya dari belakang, ah…terasa kaku tidak seperti film-film bokep yang sering aku tonton. Merasakan kecanggunganku itu, yu ginah tambah aksi, pantatnya yang besar itu digeser-geserkannya ditonjolan besar dipangkal pahaku itu. Aku jadi berani, kuciumi dengan srogal-srogol leher belakang yu ginah, ahhhhh bau keringat alaminya bercampur dengan bau sabun lux dan sedikit aroma rexona betul-betul membuat darahku pelan-pelan naik, membuat “manukku” jadi keras sekeras-kerasnya. Aku ngejerrr….merasakan ekstasi yang luar biasa, pelan tubuh yu ginah kuputar, dan dengan grusa-grusu kusosor mulutnya yang ranum dombleh itu, yu ginah terkikik “sabar….den bagus….sabar” desisnya terengah-engah mencoba menghindari mulut panasku yang mencari-cari celah bibir basahnya. Sambil kedua telapak tangannya berusaha meraih mukaku, akupun manut pelan-pelan aku tengadah menatap wajahnya yang ayu njawani itu. Yu ginah kemudian mengecup bibirku lembut, seolah mengajariku bagaimana memperlakukan wanita dengan lebih elegen tidak grusa-grusu sepertiku. Aku berusaha mengimbangi dengan lebih santun, ternyata lebih enak. Hangatnya bibir yu ginah jadi jauh lebih terasa. Kecupan-kecupan itu betul-betul kuresapi, kemeremkan mataku untuk menikmati geseran-geseran geli yang menyentuh syaraf-syaraf bibirku. Melihat sikap pasrahku itu yu ginah tersenyum rambutnya yang tadi diikat keatas, dilepaskannya dan dibiarkan terurai. Kembali aku melihat pemandangan indah, meskipun sekejap bulu ketek lebat itu. Melihat kilatan mataku yang nanap melihat hutan lebat diketiaknya, yu ginah hanya tersenyum kecil dan berbisik manja “…wong bagus kok senengane melihat bulu ketek” katanya sambli mengusapkan rambutnya dileherku. Terasa geli merambati ujung-ujung syarafku yang menyebar, dan mengirim sinyal-sinyal gelinak (geli-geli enak) disekujur tubuhku. Pangkal pahaku kembali berdenyut-denyut menyentuh hangat ujung paha yu ginah.

    Keberanikan diri lagi untuk memeluknya, untuk merasakan dan menikmati bau tubuh wanita dewasa yang memabukkan itu. Yu ginahpun membalas dengan tak kalah hangat, tangannya pelan meraba gundukan besar di ujung celana pendekku “ den bagus….ngaceng ya” candanya sambil meremas nakal. Aku hanya bisa menggelinjang merasakan sensasi nikmat yang mencandai pori-pori ujung kedewasaanku. Angin senja kembali menerobos dapur remang itu. Kami berdua sudah melupakan hawa panas dari sup iga sapi yang menggelegak, dan juga teriakan ibuku yang berkali-kali memanggil yu ginah. Pelan-pelan kukencangkan pelukkanku, kutengadahkan wajah yu ginah, dan yu ginah kembali menggelinjong ke kiri kekanan, mencoba menghindari bibirku yang mencoba mencari-cari bibirnya. Kesabaranku mulai kalah dengan nafsu yang kian menggelocak, khas usia dewasa muda. Didekat sudat rak piring yu ginah sudah tidak bisa lagi menggelinjong, dan dengan sigap segera kekecup bibirnya yang ranum itu, “hmmmmm!....Hmmmmmmm!”, yu ginah tidak lagi meronta, matanya meredup dan segera membalas pelukanku. Bahkan, yu ginah segera menjulurkan lidahnya menyapu segenap ruas bibirku, akupun ikut dan mulai bisa mengimbangi kelincahan lidahnya, kembali yu ginah menunjukkan powernya, lidahnya menari-nari mengajak lidahku untuk mengimbangi dengan belitan yang sama. Melihat agresifitas yu ginah, darah mudaku menggelonjak, panas menuntut pelepasan. Apalagi tangan yu ginah tidak henti-hentinya meremas dan mengelus burungku. Menjadikan terasa sakit karena terkukung celanaku, pelan tapi pasi yu ginah menurunkan resleting celanaku, dan tersembulah helm leber yang berkilat ”...ahhhh den bagus nakal, ternyata den bagus tidak pakai cancut ya” ada rasa malu namun dikalahkan dengan nafsu, pelan-pelan tanganku meremas dasternya yang mulai basah oleh keringat. Terasa lembut dan kenyal, melihat aksiku yu ginahpun membalas dengan memelorotkan celanaku dan dengan tak kalah sikap mengurut-mengelus dan mengkeeping burungku yang kini semakin tegak bagai tugu monas. Setelah puas bermain susunya, kembali tangan yu ginah yang satu kuangkat tinggi, dan kembali terpampang bulu ketek lebat yang semakin basah oleh keringat. Kupindah kecupanku, dan beralih ke keleknya itu, pelan kuhirup bau alami perempuan dewasa itu kuresapi dan kuendus-endus dengan segenap rasaku. Ahhhhh begini rasanya kelek orang dewasa itu, rambutnya betul-betul hitam liar bagai rumput dipadang tandus, dengan butiran-butiran keringat yang merekah dari segenap pori-pori ketiaknya. ”..den bagusssss geli ahhhhh” erang yu ginah merasakan remangan pori-pori tubuhnya ketika kelek itu kuciumi dan kujilati dengan rakus, melihat erangannya aku kembali bersemangat seluruh permukaan kelek yang subur oleh bulu itu kuciumi inchi demi inchi. Yu ginah kembali merintih dan mengelinjang-gelinjang kegelian namun terlihat menikmatinya, terbukti tangannya yang menggenggam dan meremas burungku dilepaskannya dan kemudian dianggkatnya tinggi-tinggi seolah menyerah kepadaku, lengkap sudah pemandangan indah dimataku leher yang jenjang, bibir ranum merekah dan dua lengan dan ketiak yang lebat menguarkan aroma yang merangsang nafsu berahiku. Hmmmm ternyata bulu ketek yang sebelah kanan jauh lebih lebat lagi, bulunya sampai melingkar-lingkar. Melihat itu, akupun kembali menciumi, menjilati kiri dan kanan, menghirup aroma sembabnya dan melumurinya dengan air liurberahiku. Demikian berulang-ulang sampai yu ginah tidak tahan dan menengadahkan mukaku dan ganti menciumi bibirku meyapunya dengan lidahku menghisap dan memijati mulut bagian dalamku.

    Tanganku yang bebas kembali mendekap erat pinggulnya, kuremas dengan gemas. Yu ginah memepetkan dadanya yang montok itu, menekakan kedadaku yang kerempeng dan tidak bodi blas itu, terasa lembut dan hangat.Menurutku, yu ginah ingin tanganku merabainya, merasakan kemontokan dadanya yang hanya terbungkus kain daster tipis dan kutang yang semuanya tidak bisa menghalangi kekenyalannya itu. Aku tanggap, tanganku dua-duanya berpindah meremas, meremas dan meraba dengan lembut penuh perasaan sepasang buah dadanya yang besar itu. Telapak tanganku terasa penuh. Yu ginah merintih, matanya terpejam dan pinggulnya mengejap-ngejap, seperti merasakan sengatan listrik dari kedua telapak tanganku itu.
    Last edited by david22id; 07-09-2011 at 16:26.
  2. # ADS
    Circuit advertisement
    Bergabung
    Always
    Posts
    Many
    BursaBet
     

  3. #2
    Belum selesai nih cerita
    Wooy lanjutin lagi woy...
  4. #3
    Korban Banci 1v4n3's Avatar
    Bergabung
    Sep 2011
    Lokasi
    Jakarta
    Posts
    17
    HAhahahahahaha......


    Agan doyan ketek juga ga??
  5. #4
    ................sudah crotttttt
  6. #5
    Quote Originally Posted by david22id View Post
    sudah satu minggu yu ginah membantu ibuku dalam bisnis katering. kusebut yu, karena dia jauh banget usianya dibanding dengan diriku. aku baru menginjak 17 tahun, sedangkan yu ginah mungkin sudah 35 tahun. Yu ginah, rondo teles kata kang giman sopir ibuku. janda yang baru saja dicerai suami karena kang parto suaminya kawin lagi. badan yu ginah weweg banget, alias montok. kulitnya putih nemu giring. wajahnya khas jawa, hidungnya agak pesek. rambutnya hitam dan tebal dan selalu berbau harum khas cendana. itu yang membuatku selalu ingin berserobok dengannya, baunya itu selalu membuatku panas dingin dan membuatku nagih.

    sore itu udara sangat beringsang, maklum bulan september, sat-satnya sumber. ibuku menerima order besar, harus mempersiapkan konsumsi untuk pertemuan partai politik pak jenggot yang dihelat disebuah hotel besar di kotaku. kipas angin besar yang memutar diatas plafon dapur itu tidak mampu mengendus dan mengusir hawa panas yang berasal dari tungku api yang sedang memasak iga sapi. kulihat yu ginah..sangat gerah. dasternya yang tanpa lengan membasah. rambutnya yang tebal itu berkali-kali dikuncirnya. aku yang duduk disebelahnya jadi salah tingkah, karena selalu terlihat ketiaknya yang berbulu lebat itu terpampang jelas setiap kali yu ginah mengucir rambutnya. entah sadar atau tidak yu ginah telah membuatku mabok pada sore itu, berkali-kali kutelan ludahku ketika melihat bulu lebat hitam basah yang terpampang jelas diketiaknya. jelas yu ginah suka miara bulu ketek, dan dengan sengaja memamerkannya kepadaku. bahkan kulihat kerling matanya yang tajam dan sedikit senyuman dibibirnya ketika melihatku ngowoh melihat pameran itu. aroma tubuh dewasanya membuatku dudukku jadi salah tingkah, pelan-pelan ada yang memberontak dicelanaku. melihat reaksiku itu, yu ginah tambah sembrono dengan sengaja menyenggolkan ketiaknya itu diujung hidungku, ya sengaja karena tiba-tiba saja dia mengambil kuali besar yang terletak persis diatasku. aku hanya melongo dan dipaksa mencium aroma keringat yang tersembul dilipatan ketiaknya, aroma yang memabukkan tidak kecut tapi merangsang banget..., kuhirup pelan pelan aroma itu dan dengan sengaja yu ginah memberiku kesempatan untuk menghirup lekuk ketiaknya yang basah dan berbulu lebat itu. sempat kudengar bisiknya "...hmmm den bagus nikmati semua kelek yu ginah ya" dan dengan gerakan lambat yu ginah memamerkan utuh bentuk ketiaknya yang bulat gemuk dan penuh dengan hutan lebat itu. aku hanya tertegun dan dengan terbata-bata berusaha menikmati pemandangan langka itu. pelan tapi pasti tubuh bagian bawahku meremang dan membesar. melihat itu yu ginah tersenyum dan memencet hidungku, "..ah ada yang bangun tu den bagus" katanya manja..aku hanya tercegut mendengar cetusannya itu dengan reflek segera kuturunkan dos makanan itu untuk menutupi bagian bawahku yang mulai menonjol. melihat reaksiku itu yu ginah malah memepetkan tubuhnya dan menjejeri tempat dudukku. lengannya yang putih basah itu menempel dibahuku. semakin kucium aroma keringat yang memabukkan itu, parfum alamiah wanita dewasa yang baru dicerai suaminya. "den bagus ingin mencium langsung kelek yu ginah..." bisiknya ditelingaku, ahhhh berdesir jantungku dan terasa melayang merasakan hawa panas yang masuk dilubang telingaku. aku tidak bisa menjawab hanya tertunduk malu. sungguh diusiaku yang ke 17 ini aku seperti mendapat anugerah yang luar biasa, betapa tidak tubuh yu ginah yang hanya terbalut daster tipis dan lembab oleh keringat yang membuncah di sore terik itu betul-betul menempel erat di kulitku. jantungku tak henti-hentinya berdebar, cemas, senang dan ingin memciumi habis seluruh tubuh berkeringat disampingku itu, terlebih lagi bisa mengendus dan menguik-nguik keleknya yang basah itu.

    tiba-tiba yu ginah mengangkat tinggi-tinggi lengannya, dan membiarkan bebas mataku memeloti seluruh ruang yang ada di ketiaknya itu, bulunya yang hitam pekat terlihat basah oleh keringat, tercium paduan dahsyat antara deodorant dan bau keringat asli. pelan tangannya yang terangkat itu didekatkannya kemukaku, dan dengan sigap tangannya yang satu meraih kepalaku dan membenamkannya dikeleknya itu. aku hanya bisa manut dan dengan rakus kuciumi ketiak lebat itu, pelan keendus-endus, kuhirup dalam-dalam dan kujelajahi permukaan berambut basah itu. "ahhhhhh....enak dan geli den" desis yu ginah meresapi setiap hembusan nafas dan kecupan bibirku di ketiaknya itu. belum sempat kupuaskan rasa haus itu, tiba-tiba terdengar suara ibuku keras dari ruang dalam "...yu ginah sudah matang belum iganya?" yu ginah lalu melepaskan kepalaku dari jepitan ketiaknya, dan dengan mesra ditatapnya mukaku "...sttt nanti lagi ya den bagus" bisiknya sambil beranjak menuju ke adonan iga sapi itu. " sebentar den rara.." teriaknya sambil membenahi letak dasternya yang agak terbuka dibagian atasnya..., dengan masgul kulepas nafas berat sambil terus merasakan aroma tubuh yu ginah yang masih melekat erat diujung hidungku itu. mendengar helaan nafasku itu yu ginah, tersenyum dan memberi isyarat kepadaku untuk mendatanginya.
    yeaaahhh..koq sgtu doank...lanjut mas bro...
  7. #6
    Korban Banci
    Bergabung
    Aug 2011
    Lokasi
    Ujungbatu
    Posts
    10
    tanggung mas bro o_O???
  8. #7
    lagi.... lagi... kentang nih gan...
  9. #8
    yang nulis lupa karangannya wkwkwkwkwk
  10. #9
    Sorry brother in hole semua ip di suspend nih bingung uploadnya
  11. #10
    kelek...bau tuh gan..
  12. #11
    ini namanya g bertanggung jawab. bikin penasaran aja!
  13. #12
    Korban Banci
    Bergabung
    Jul 2011
    Posts
    10
    nanggung.com...........uhhhhhhhhhh
  14. #13
    wah pemirsa pada kecewa
  15. #14
    wuaduh nanggung bro..... di lanjut lagi..........
  16. #15
    sambungan yu ginah...
    Melihat isyarat dari yu ginah, pelan-pelan aku mendatanginya..melihat aku yang agak malu-malu, yu ginah malah menggeol-geolkan pantatnya yang besar, sambil tersenyum menatapku. Setelah suara ibu tidak terdengar lagi. Aku baru berani mendekatinya persis dibelakang pantatnya yang menggeol-geol tadi. Tercium baru merangsang dari tubuhnya yang bersimbah keringat di sore itu. Lehernya yang jenjang tampak mengkilat dihiasi rambut-rambut halus yang melingkar-lingkar. Ah…mimpi apa aku semalam, pikirku melihat tubuh weweg yu ginah, betul-betul semledot menarik-narik berahiku.

    Matahari sore yang terik sudah mulai redup, cahaya di dapur mulai agak suram. Membuatku semakin berani. Dengan terbata-bata aku mencoba memeluknya dari belakang, ah…terasa kaku tidak seperti film-film bokep yang sering aku tonton. Merasakan kecanggunganku itu, yu ginah tambah aksi, pantatnya yang besar itu digeser-geserkannya ditonjolan besar dipangkal pahaku itu. Aku jadi berani, kuciumi dengan srogal-srogol leher belakang yu ginah, ahhhhh bau keringat alaminya bercampur dengan bau sabun lux dan sedikit aroma rexona betul-betul membuat darahku pelan-pelan naik, membuat “manukku” jadi keras sekeras-kerasnya. Aku ngejerrr….merasakan ekstasi yang luar biasa, pelan tubuh yu ginah kuputar, dan dengan grusa-grusu kusosor mulutnya yang ranum dombleh itu, yu ginah terkikik “sabar….den bagus….sabar” desisnya terengah-engah mencoba menghindari mulut panasku yang mencari-cari celah bibir basahnya. Sambil kedua telapak tangannya berusaha meraih mukaku, akupun manut pelan-pelan aku tengadah menatap wajahnya yang ayu njawani itu. Yu ginah kemudian mengecup bibirku lembut, seolah mengajariku bagaimana memperlakukan wanita dengan lebih elegen tidak grusa-grusu sepertiku. Aku berusaha mengimbangi dengan lebih santun, ternyata lebih enak. Hangatnya bibir yu ginah jadi jauh lebih terasa. Kecupan-kecupan itu betul-betul kuresapi, kemeremkan mataku untuk menikmati geseran-geseran geli yang menyentuh syaraf-syaraf bibirku. Melihat sikap pasrahku itu yu ginah tersenyum rambutnya yang tadi diikat keatas, dilepaskannya dan dibiarkan terurai. Kembali aku melihat pemandangan indah, meskipun sekejap bulu ketek lebat itu. Melihat kilatan mataku yang nanap melihat hutan lebat diketiaknya, yu ginah hanya tersenyum kecil dan berbisik manja “…wong bagus kok senengane melihat bulu ketek” katanya sambli mengusapkan rambutnya dileherku. Terasa geli merambati ujung-ujung syarafku yang menyebar, dan mengirim sinyal-sinyal gelinak (geli-geli enak) disekujur tubuhku. Pangkal pahaku kembali berdenyut-denyut menyentuh hangat ujung paha yu ginah.

    Keberanikan diri lagi untuk memeluknya, untuk merasakan dan menikmati bau tubuh wanita dewasa yang memabukkan itu. Yu ginahpun membalas dengan tak kalah hangat, tangannya pelan meraba gundukan besar di ujung celana pendekku “ den bagus….ngaceng ya” candanya sambil meremas nakal. Aku hanya bisa menggelinjang merasakan sensasi nikmat yang mencandai pori-pori ujung kedewasaanku. Angin senja kembali menerobos dapur remang itu. Kami berdua sudah melupakan hawa panas dari sup iga sapi yang menggelegak, dan juga teriakan ibuku yang berkali-kali memanggil yu ginah. Pelan-pelan kukencangkan pelukkanku, kutengadahkan wajah yu ginah, dan yu ginah kembali menggelinjong ke kiri kekanan, mencoba menghindari bibirku yang mencoba mencari-cari bibirnya. Kesabaranku mulai kalah dengan nafsu yang kian menggelocak, khas usia dewasa muda. Didekat sudat rak piring yu ginah sudah tidak bisa lagi menggelinjong, dan dengan sigap segera kekecup bibirnya yang ranum itu, “hmmmmm!....Hmmmmmmm!”, yu ginah tidak lagi meronta, matanya meredup dan segera membalas pelukanku. Bahkan, yu ginah segera menjulurkan lidahnya menyapu segenap ruas bibirku, akupun ikut dan mulai bisa mengimbangi kelincahan lidahnya, kembali yu ginah menunjukkan powernya, lidahnya menari-nari mengajak lidahku untuk mengimbangi dengan belitan yang sama. Melihat agresifitas yu ginah, darah mudaku menggelonjak, panas menuntut pelepasan. Apalagi tangan yu ginah tidak henti-hentinya meremas dan mengelus burungku. Menjadikan terasa sakit karena terkukung celanaku, pelan tapi pasi yu ginah menurunkan resleting celanaku, dan tersembulah helm leber yang berkilat ”...ahhhh den bagus nakal, ternyata den bagus tidak pakai cancut ya” ada rasa malu namun dikalahkan dengan nafsu, pelan-pelan tanganku meremas dasternya yang mulai basah oleh keringat. Terasa lembut dan kenyal, melihat aksiku yu ginahpun membalas dengan memelorotkan celanaku dan dengan tak kalah sikap mengurut-mengelus dan mengkeeping burungku yang kini semakin tegak bagai tugu monas. Setelah puas bermain susunya, kembali tangan yu ginah yang satu kuangkat tinggi, dan kembali terpampang bulu ketek lebat yang semakin basah oleh keringat. Kupindah kecupanku, dan beralih ke keleknya itu, pelan kuhirup bau alami perempuan dewasa itu kuresapi dan kuendus-endus dengan segenap rasaku. Ahhhhh begini rasanya kelek orang dewasa itu, rambutnya betul-betul hitam liar bagai rumput dipadang tandus, dengan butiran-butiran keringat yang merekah dari segenap pori-pori ketiaknya. ”..den bagusssss geli ahhhhh” erang yu ginah merasakan remangan pori-pori tubuhnya ketika kelek itu kuciumi dan kujilati dengan rakus, melihat erangannya aku kembali bersemangat seluruh permukaan kelek yang subur oleh bulu itu kuciumi inchi demi inchi. Yu ginah kembali merintih dan mengelinjang-gelinjang kegelian namun terlihat menikmatinya, terbukti tangannya yang menggenggam dan meremas burungku dilepaskannya dan kemudian dianggkatnya tinggi-tinggi seolah menyerah kepadaku, lengkap sudah pemandangan indah dimataku leher yang jenjang, bibir ranum merekah dan dua lengan dan ketiak yang lebat menguarkan aroma yang merangsang nafsu berahiku. Hmmmm ternyata bulu ketek yang sebelah kanan jauh lebih lebat lagi, bulunya sampai melingkar-lingkar. Melihat itu, akupun kembali menciumi, menjilati kiri dan kanan, menghirup aroma sembabnya dan melumurinya dengan air liurberahiku. Demikian berulang-ulang sampai yu ginah tidak tahan dan menengadahkan mukaku dan ganti menciumi bibirku meyapunya dengan lidahku menghisap dan memijati mulut bagian dalamku.

    Tanganku yang bebas kembali mendekap erat pinggulnya, kuremas dengan gemas. Yu ginah memepetkan dadanya yang montok itu, menekankannya kedadaku yang kerempeng dan tidak bodi blas itu, terasa lembut dan hangat. Menurutku, yu ginah ingin tanganku merabainya, merasakan kemontokan dadanya yang hanya terbungkus kain daster tipis dan kutang yang semuanya tidak bisa menghalangi kekenyalannya itu. Aku tanggap, tanganku dua-duanya berpindah meremas, meremas dan meraba dengan lembut penuh perasaan sepasang buah dadanya yang besar itu. Telapak tanganku terasa penuh. Yu ginah merintih, matanya terpejam dan pinggulnya mengejap-ngejap, seperti merasakan sengatan listrik dari kedua telapak tanganku itu. Remasanku yang berpindah dari kiri kekanan, kanan kekiri ternyata membuat yu ginah makin gelagapan ”aduhhhhhh den bagussssss enakkkkk geli......ohhhhhhh” rintihnya sambil membusungkan dadanya yang sudah makin mrusuh itu. Aku kembali menggencarkan gerakan remas meremas itu,agar yu ginah semakin meresapi rasa geli-geli nikmat yang menerpa urat-urat nikmat dipermukaan dadanya itu. ”den bagus ternyata pintar menaikkannnnnn spaning ginahhhhh ya ....ginahhhhhhhh jadi ndak tahannnnnnnnnn nihhhhhhh” katanya sambil merem melek dengan mulut mengerunyut. Mendengar pujiannya itu, aku jadi tersipu-sipu malu mengkudu, malu tapi mau. ”....den bagus ohhhhh den bagus ” desisnya manja sambil terus mengerumusi rambutku dengan gemas. ”...den...panassss tak buka ya bajunya” katanya genit sambil melolosi pakaianku satu demi satu. Akhirnya kaos kutangkunpun tanggal..dadaku yang kerempeng jadi berkerut-kerut ketika bibir yu ginah pelan-pelan menelusuri pori-pori tubuhku. Bibirnya yang dombleh itu mencucup-cucup semua permukaan dadaku itu, kombinasi antara kecupan dan sapuan lidahnya betul-betul membuat merem...melek, melek meremm, kini semuanya jadi berbalik, kalau tadi yu ginah yang merem melek karena cucupan lidahku, kini gantian diriku yang menikmati tarian lidahnya. Lidahnya yang runcing mengulik-ulik puting susuku, yang kadang diseling dengan hisapan kuat dan gigitan kecil. ”.....ahhhhhhh yu enak” seruku menikmati sensasi bibir dombleh didadaku yang kerempeng itu. Lepas dari puting susuku lidah yu ginah menjalar-jalar mulai dari sisi kiri tubuhku dan akhirnya bermain dipusarku. Pelan digigitnya ujung resleting celanaku yang sempat dibukanya tadi, dan ujung helm 45 ku langsung mekar kaya jamur dimusim hujan. Yu ginah agak terperangah melihat hitamnya rambut jembutku, meskipun umurku baru nginjak 17 tahun, tapi tebaran rambut jembutku boleh diadu dengan keturunan arab manapun. Menggombyok sampai ke pusar, belum lagi dengan besarnya burungku, panjang kekar dengan helm yang bulat kokoh, tidak imbang dengan tubuhku yang kerempeng itu. Kulihat yu ginah menelan ludah mengamati tubuh bagian bawahku itu. ”...wow, burungmu besar sekali den bagus” serunya takjub. Melihat kekagumannya itu aku jagi ge er, kuejankan milikku, sehingga burung itu jadi mengangguk-aguk pongah dihadapannya. Hitam panjang kokoh dan mengkilap betul. ”...bukan main den, ginah baru melihat burung sekokoh ini” katanya sambil menempelkan pipinya yang lembut dan tangannya mengelus-elus seperti gadis perawan yang sedang mempermainkan boneka kesayangannya. Lalu dengan mesra pula tangannya tak henti hentinya membelai mulai ujung kepala sampai ujung batang burungku yang ditumbuhi rambut lebat itu. Melihat aksinya itu dengan gemetar aku bertanya ” yu ginah suka dengan burungku ya..”,yu ginah tidak menjawab, mulutnya yang dombleh itu langsung menelan habis semua tol gothoku, mulutnya penuh dan menjadi sangat monyong. Aku berdesis hebat menahan nikmat yang luar biasa. Melihat mimikku yang lucu, yu ginah menjadi bersemangat, tangannya tak henti-hentinya mengocok batang tol gothoku, sementara mulutnya dengan lahap melumat habis batang kenimatanku itu, aku kembali mengelepar dan menggelinjang ketika ujung lidahnya dengan ganas menguik-nguik lubang kencingku, ....rasanya geli linu nikmat jadi satu. ”ohhhhh yuuu....enak banget” rintihku. Tanganku hanya bisa meremas dan meremas rambutku. Sekuat tenaga aku menahan, agar jalaran nikmat yang mulai muncul dari ujung peler menuju ujung tol gothoku kembali turun. Sudah lebih sepuluh menit mulut yu ginah mengempot, menjilat dan menyapu segenap urat kegelianku itu, rasanya lahar panas itu semakin membuncah. Kucuba mengalihkan rasa nikmat itu dengan meraih susunya, meremas dan menguik ujung-ujung putingnya. Namun, yu ginah membalasnya dengan tak kalah lihai ujung jemarinya merabai habis daerah geli diseputaran lubang tahitiku, dan dengan licik dimasukkan ke lobang duburku. Akibatnya aku hanya bisa menjerit dan berkelojot memutahkan segenap lahar panas di kerongkongannya. Aku kalah pejuhhku keluar banyak. Dengan sigap yu ginah menyedot habis pejuh itu. Mataku melotot dan tinggal putihnya doang, sementara kakiku menjijit dan tanganku meremas henat seluruh rambutnya. Pelan-pelan aku melorot dan jatuh terduduk dilantai. Yu ginah lalu meraih kepalaku diciuminya mulutku, terasa asin dan bau pejuh. Dengan nafsu yu ginah bergantian memasukkan lidahnya ke mulutku, sementara tangannya meraih tanganku dan meletakkan didadanya yang sekel itu. ”remes den....remes susunya” bisiknya. Pelan-pelan nafsuku mulai utuh lagi dengan sigap aku meraih tubuhnya, kuangkat dan dengan ganas kubalas perlakuan yu ginah tadi dengan tidak kalah hotnya. Kuhisap pelan pelan lidahnya dan mulailah kami bertukar cium dan saling memijat dan membelitkan lidah kami berdua. Sementara tanganku dengan lincah meremas dan menggepit susunya dan mempermainkan putingnya hingga besar mengeras. ”den...puasi mbak den...” rintihnya, tanganya kembali mempermainkan burungku, dan dengan gagah burungku menyambut panggilannya. Setelah dirasakan tegang penuh, pelan-pelan tangan yu ginah mengarahkan burungku itu disela-sela pahanya. Akupun tanggap, pelan tanganku yang satu turun, dan memlorotkan celananya, terasa lembab bukit itu, dan yu ginahpun ternyata memiliki bulu kemaluan yang tak kalah lebat dengan ketiaknya. Pelan tapi pasti burungku diletakkannya ditengah, belum masuk. Dan dengan gaya sluku-sluku bathok aku memaju dan memundurkan batang kemaluanku itu, menggilas habis lembah licin ditengah hutan lebat itu. Yu ginah memelukku erat, mulutnya semakin ganas melahap habis bibirku. Tangannya dengan kuat memeluk bokong teposku dan memajukan serta memundurkan dengan irama hula hup. Slurup---slurup bagai bermain slurutan. Aku merasa itil yu ginah semakin membesar dan mengeras..Yu ginah menggigit bibirku, ”ohhhhhh.....den enakkkkkkkh, masukin den ” pintanya, pelan-pelan kutekuk kakiku, dan dengan sedikit susah kuarahkan tol gothoku mencari celah dibibir kemaluannya yang sudah basah kuyup itu, dan kupeluk erat pantatnya yang mulai mekar itu, dan kutarik dengan pelan ”ahhhhhhh den” teriaknya, ketika pelan-pelan burungku memasuki lubang nikmat itu, terasa licin dan berkedut-kedut. Rasa nikmat terasa dikepala peyangku. Yu ginah mendesis nikmat, dan kembali menyandera bibirku..memainkan lidahku. Sementara aku meresapi rasa nikmat memasuki lubang kenikmatannya ituTangan yu ginah memelukku dengan ketat, serasa ingin menempelkan dan menekankan dadanya yang sekal di dada kerempengku...”den masukkan semua, den” erangnya...aku kemudian memainkan pinggulku dengan cepat, jadilah di sore yang mulai kehilangan cahayanya itu, kami bertukar goyang pinggul. Kadang dengan cepat aku memacu tol gothoku, kadang yu ginah memilintirnya dengan gerakan pinggul memutar, kadang kami saling bermain tarik dan hisap. Ahhhhh nikmatnya tiada tara. Tangan yu ginahpun tak henti-hetinya menekan dan menarik pinggulku dengan irama yang disukainya. Kami lupa diri, lupa bahwa sup iga sapi itu sudah saatnya diantar dan dientas. Namaun karena rasa nikmat itu yang membuat kami lupa semuanya. Keringat kami sudah menjadi satu. Yu ginahpun, mulai gerah dan berusaha melepas dasternya. Aku membantunya dan mengangkat daster itu keatas, ah...kembali ketiak lebat itu menggodaku dan dengan ganas pula kuciumi dan kuhisapi sementara pinggul kami tidak pernah lupa untuk saling berbagi goyang.
    Last edited by david22id; 18-11-2011 at 16:26.
  17. #16
    asyik ceritanya. bener2 menggugah selera.
  18. #17
    Banci Tua thealvino's Avatar
    Bergabung
    Dec 2011
    Lokasi
    Sumatra
    Posts
    1,758
    lanjutin dong....mantap ne
  19. #18
    Korban Banci
    Bergabung
    Feb 2012
    Lokasi
    Jakarta
    Posts
    21
    Quote Originally Posted by barongtlho View Post
    lagi.... lagi... kentang nih gan...

    hahaha.....
  20. #19
    Korban Banci swing_tank's Avatar
    Bergabung
    Nov 2012
    Lokasi
    Jakarta Selatan
    Posts
    48
    teal di kudeta ini..................................
  21. #20
    nanggung gaann.......................
Halaman 1 dari 2 12 LastLast

Tags for this Thread

Agen Togel Nasional Online

Agen Judi bola Online
Agen Judi Poker Domino 99 Online

Agen Judi bola Online
Judi Poker Domino 99 ituQQ     Agen Judi Togel Online Asli4D