Nafsu liar sang babysister
Agen Poker BandarQ Online ituPoker .Taruhan Bola Online
.
.Texas Poker
Agen DominoQQ Ceme Online ituDewa
www.pokervovo.com .Judi Casino dan Togel Online Indonesia
. Situs Bandar Qiu Terbesar & Jamin Bayar 2015
.ww.bursabet.net
www.pokerkiukiu.com
QQDomino.net Bandar Domino QiuQiu Domino Ceme Poker Online Terpercaya Bandar Judi Casino Online
.model dewasa
jual lagu karaoke online www.jadwalfilm.com

Agen Judi Togel Online Indonesia TogelNalo Agen Togel Indonesia Online KuponNalo
Results 1 to 5 of 5

Thread: Nafsu liar sang babysister

  1. #1

    Nafsu liar sang babysister

    Memiliki seorang bocah disaat kita dan istri sibuk mencari uang
    memang memerlukan managing waktu yang smart. Kalo salah,
    permasalahan akan semakin runyam karena semua bisa jadi korban.
    Seperti pengalaman hidupku berikut ini beserta cerita panas didalamnya.

    Hai, perkenankan aku untuk sedikit bercerita tentang pengalamanku.
    Aku memiliki seorang anak laki-laki yang telah berusia 5 tahun dan
    duduk di bangku TK-B. Aku dan istriku sama-sama bekerja, sehingga
    anakku biasanya kutitipkan di rumah kakak iparku (kakak perempuan
    istriku) disaat kami berdua pergi bekerja. Kebetulan rumah kakak
    iparku dan rumah kami bersebelahan, dan kakak iparku tidak bekerja,
    sehingga urusan menitipkan anak bukanlah suatu masalah, apalagi
    keponakanku (anak dari kakak iparku tersebut) ada yang berumur
    sebaya dengan anakku.

    Namun, belum lama berselang, kakak iparku pindah ke Sumatra karena
    suaminya ditugaskan di kota Medan. Sejak itulah masalah anak muncul
    menjadi persoalan yang memusingkan, sementara itu tidak ada lagi
    sanak saudaraku ataupun sanak saudara istriku yang tinggal di
    Jakarta selain kakak iparku yang pindah ke Sumatra (kebanyakan
    keluarga kami tinggal di Yogyakarta dan beberapa di Solo). Keadaan
    ini memaksa kami untuk membayar seorang babby sitter untuk menjaga
    anak kami disaat kami berada di kantor. Sebagaimana biasanya,
    mempekerjakan seorang babby sitter adalah persoalan yang sangat
    menjengkelkan, bayangkan saja dalam 2 bulan kami telah 5 kali
    mengganti babby sitter dengan berbagai macam sebab yang aku rasa
    tidak perlu kupaparkan disini.

    Namun akhirnya ada juga seorang babby sitter yang dapat bertahan
    bekerja selama hampir tiga bulan, ini merupakan rekor pertama yang
    telah dicapai setelah sebelumnya tidak pernah ada babby sitter yang
    bertahan lebih dari 3 minggu. Atas dasar alasan itu juga, aku
    menyarankan kepada istriku untuk menaikkan gajinya sebagai
    kompensasi atas kerja serta tanggung jawabnya.

    Babby sitter yang satu ini memang agak berbeda dari semua babby
    sitter terdahulu. Kelima babby sitter sebelumnya yang sempat bekerja
    di tempat kami, rata-rata berusia dibawah 30 puluh tahun, bahkan ada
    yang baru berusia 19 tahun, namun babby sitter yang terakhir ini
    adalah seorang janda berusia 48 tahun. Kami memanggilnya Bu Darsih,
    bertubuh besar untuk ukuran seorang wanita (tingginya kurang lebih
    165 cm), agak gemuk sebagaimana umumnya wanita paruh baya. Pada
    awalnya kami agak ragu kalau Bu Darsih ini akan sanggup merawat Rio
    putra kami, mengingat Bu Darsih sudah berumur, sementara Rio sangat
    hiperaktif, sehingga merawat Rio akan lebih melelahkan dibandingkan
    merawat anak-anak lain pada umumnya. Ternyata perkiraan kami salah,
    dan cukup surprise, ternyata Bu Darsih dapat merawat Rio dengan
    baik. Bahkan ada kejadian yang lebih mengejutkan lagi, dan ini yang
    ingin kuceritakan pada kesempatan ini.

    Kami memiliki acara rutin, yaitu berenang yang kami lakukan seminggu
    sekali setiap hari Sabtu sore. Aku dan istriku selalu mengajak Rio
    berenang di gelanggang renang Ancol, dan biasanya selalu ada dua
    atau tiga orang anak tetangga teman bermain Rio yang ikut berenang
    bersama kami. Babby sitter selalu kami ajak ikut serta untuk
    membantu mengawasi anak-anak, meskipun tidak ikut berenang.

    Sebagaimana biasanya, pada hari Sabtu kami pergi gelanggang renang
    Ancol, namun kali ini istriku tidak dapat ikut. Istriku pulang ke
    Yogyakarta yang rutin dilakukannya enam bulan sekali untuk menjenguk
    keluarga di sana, terutama orangtuanya (mertuaku), sehingga pada
    acara berenang kali ini, yang ikut hanya aku, Rio beserta lima orang
    temannya serta tidak ketinggalan Bu Darsih. Karena istriku tidak
    ikut, sementara teman Rio yang ikut lebih banyak dari biasanya,
    yaitu sampai lima orang (biasanya paling banyak tiga orang), aku
    berfikir bahwa Bu Darsih perlu ikut turun ke air untuk membantu
    mengawasi anak-anak. Masalahnya keselamatan anak-anak tetangga juga
    merupakan tanggung jawabku.

    Menurut keterangannya, Bu Darsih dapat berenang, tetapi dia tidak
    memiliki pakaian renang. Bagiku, yang penting Bu Darsih dapat
    berenang, karena soal pakaian renang adalah soal mudah, tinggal beli
    saja, beres.

    Sesampainya di kolam renang, aku mampir sebentar di sebuah kios yang
    menjual perlengkapan renang untuk membelikan baju renang Bu Darsih.
    Untungnya ada nomor yang pas untuknya, karena baju renang ukuran
    besar tidak begitu banyak. Setelah itu seperti biasanya, aku selalu
    menyewa kamar bilas keluarga yang dapat disewa per tiga jam. Aku
    selalu menyewa kamar bilas keluarga, karena kupikir lebih praktis.
    Di kamar bilas itu kami sekeluarga dapat berkumpul dan tidak perlu
    terpisah seperti di kamar bilas umum yang dipisahkan antara kamar
    bilas untuk pria dan wanita. Disamping itu, di kamar bilas keluarga
    semua perlengkapan, pakaian, tas dan sebagainya dapat disimpan di
    kamar bilas tersebut, tinggal dikunci dan beres, tidak perlu repot-
    repot antri ke tempat penitipan pakaian yang melelahkan, ditambah
    resiko kehilangan barang-barang. Shower juga sudah tersedia di dalam
    kamar bilas, tidak perlu repot-repot keluar kamar, ada air panasnya
    lagi. Begitu praktis, sehingga mengawasi anak-anak pun jadi lebih
    mudah.

    Rio dan teman-temannya begitu antusias, di kamar bilas mereka
    mengganti pakaian dengan tergesa-gesa. Dan setelah selesai, mereka
    semua langsung lari ke kolam tanpa tunggu-tunggu lagi. Setelah semua
    anak-anak keluar menuju kolam, aku segera melepas pakaianku. Setelah
    aku telanjang bulat, aku bergegas menuju shower, namun… astaga… aku
    baru sadar kalau ternyata ada Bu Darsih di kamar bilas itu. Kulihat
    Bu Darsih mesem-mesem (tersipu malu) sambil mencari-cari sesuatu
    dari tasnya. Aku pun pura-pura bersikap biasa, seolah-olah telanjang
    bulat di depan Bu Darsih merupakan hal yang lumrah bagiku, padahal
    itu kulakukan untuk mengusir rasa malu.

    Dengan sok berlagak tenang, aku menyuruh Bu Darsih untuk segera
    ganti pakaian.
    “Ayo.. Bu Darsih.. cepat ganti baju.. itu anak-anak nggak ada yang
    ngejagain..”
    Semua ucapanku itu betul-betul hanya bertujuan untuk mengusir rasa
    malu karena sudah terlanjur telanjang, sementara itu kulihat Bu
    Darsih terus saja mesem-mesem, dan ini mengundang perasaan aneh pada
    diriku. Sebetulnya aku mengerti makna mesem-mesemnya Bu Darsih, aku
    yakin kalau mesem-mesem- nya berkaitan erat dengan keadaanku yang
    sedang telanjang ini.
    “Forget it..!” kupikir sambil tetap telanjang bulat, akhirnya aku
    langsung menuju shower untuk membasahi tubuhku, hal yang biasa
    kulakukan sebelum berenang.

    Saat berada di bawah kucuran shower, aku sempat memperhatikan Bu
    Darsih saat sedang menanggalkan seragam babby sitternya yang
    berwarna putih, dan masih saja sambil mesem-mesem. Mungkin dia pikir
    buat apa malu-malu telanjang dihadapan majikannya ini, toh
    majikannya saja tidak malu telanjang bulat dihadapannya, semua ini
    membuat perasaan mesum mulai menjalari tubuhku. Selanjut pemandangan
    di hadapanku menjadi semakin mendebarkan. Bu Darsih sambil terus
    mesem-mesem sendiri mulai menanggalkan pakaian dalamnya, jantungku
    berdebar keras, apalagi disaat dia melepaskan kait-kait BH-nya,
    serta meloloskan tali-tali BH tersebut dari lengannya.

    Belum pernah terbayangkan dalam pikiranku melihat Bu Darsih dalam
    keadaan yang kulihat saat ini. Selama ini gairahku sama sekali tidak
    pernah terusik oleh wanita paruh baya itu yang bertubuh besar dan
    agak gembrot, serta mengenakan pakaian seragam putih. Namun
    pemandangan di hadapanku kali ini sungguh-sungguh berbeda. Payudara
    yang sungguh besar dan montok dengan puting payudara yang lebar
    berwarna coklat gelap, menggantung di dadanya, begitu menggetarkan
    kalbuku. Apalagi saat dia memelorotkan celana dalamnya, membuat
    rambut lebat di kedua pangkal pahanya yang montok begitu jelas
    terpandang, sungguh membuat darahku menjadi berdesir dengan
    derasnya. Jantungku semakin berdetak tidak beraturan, dan tubuhku
    gemetar menahan gairah yang kali ini terusik oleh pemandangan yang
    sungguh benar-benar lain dari biasanya, serta tidak pernah
    terbayangkan sebelumnya olehku.

    Disaat Bu Darsih hendak mengenakan pakaian renangnya, secara refleks
    aku langsung berkata kepadanya, “Ayoh… Bu Darsih.., mandi dulu…
    supaya nggak keram di kolam.”
    Sebetulnya, ucapanku hanyalah akal bulusku yang semata-mata hanya
    agar aku dapat menikmati pemandangan tubuh bugil Bu Darsih lebih
    lama lagi. Namun ternyata, `Pucuk dicinta ulam tiba’, Bu Darsih
    batal mengenakan pakaian renangnya, dan melemparnya ke atas jok
    empuk berkulit plastik yang ada di kamar bilas itu. Lantas sambil
    terus mesem-mesem dan masih telanjang bulat, Bu Darsih melangkah
    menuju shower. Aku sedikit menggeser posisi berdiriku di bawah
    shower untuk memberi tempat bagi Bu Darsih.

    Tubuh telanjangnya yang begitu montok dan besar, bergidik kedinginan
    saat air yang memancar dari shower menerpa tubuhnya. Bu Darsih
    mengusap-usap wajahnya yang terguyur air shower. Birahi yang sudah
    menguasai diriku membuatku nekat menjamah payudaranya yang sangat
    besar itu.., sungguh aku sangat gemetaran, takut kalau-kalau Bu
    Darsih menolak untuk disentuh. Tetapi ternyata Bu Darsih hanya diam
    saja saat aku mengusap-usap payudaranya. Hal ini membuatku nekat
    untuk berlanjut menjamah kemaluannya. Disaat jemariku menyentuh
    kemaluannya yang berambut lebat itu, dalam waktu yang hampir
    bersamaan tangan Bu Darsih juga menjamah batang penisku yang tengah
    tegang. Dia terus-terusan mengusap dan mengelus batang penisku.

    Kupandangi wajah Bu Darsih, matanya menatap nakal dengan senyuman
    bandel di bibirnya. Wanita paruh baya itu ternyata begitu
    menggairahkan. Tanpa kuminta, Bu Darsih kemudian berjongkok di
    hadapanku, dia segera mengulum dan menjilati batang penisku sampai
    menimbulkan bunyi yang begitu khas. Keahliannya menyedot dan
    mengulum batang penisku begitu luar biasa, membuatku tidak dapat
    menahan diri lagi. Kutarik tangannya mengajak berdiri, lalu
    menggiringnya menuju jok berkulit plastik di kamar bilas itu.
    Kubimbing agar Bu Darsih duduk di jok empuk itu, dan tanpa kuminta,
    Bu Darsih pun langsung membengkangkan kedua kakinya, sehingga
    kemaluannya yang besar menantang di hadapanku. Tanpa buang-buang
    waktu, aku langsung menyibakkan rambut lebat yang menutupi
    vaginanya, sehingga kudapati bibir-bibir vagina yang tebal berwarna
    hitam kecoklatan. Lendir putih mengalir dari bibir-bibir vagina yang
    mulai merekah itu yang merupakan pertanda birahi luar biasa yang
    telah menghinggapi dirinya.

    Saat bibir-bibir vagina itu ku renggangkan, muncul klitoris sebesar
    kacang tanah seperti menuntut untuk dijilati. Belum pernah kulihat
    klitoris sebesar itu, juga bibir-bibir vagina yang begitu tebal,
    mungkin karena badannya besar membuat klitoris-nya juga jadi besar
    sesuai dengan ukuran badannya yang juga besar dan gemuk. Kujilati
    klitoris itu dengan buas, membuat Bu Darsih mendesah keras, tubuhnya
    menjadi kejang dan gemetar menahan kenikmatan itu, pinggulnya
    terangkat menyambut jilatan lidahku pada vagina dan klitoris-nya.
    Vaginanya menjadi semakin menganga lebar, membuat dinding vaginanya
    yang merah menjadi jelas terlihat seperti menyampaikan kesiapannya
    untuk menerima coblosan batang penisku.
    Akhirnya, “Bleesss..!” kubenamkan batang penisku ke lubang vaginanya.
    Terasa begitu sempit dan menggigit, mungkin akibat Bu Darsih yang
    telah hampir 20 tahun menjanda, membuat otot-otot vaginanya kembali
    menguat.

    Tubuh kami berguncang-guncang dahsyat di atas jok itu saling
    menekan, sementara batang penisku keluar masuk lubang vaginanya
    menggesek dan menggaruk dinding-dinding vagina yang sudah begitu
    gatal selama ini. Kujejalkan penisku lebih dalam lagi, Bu Darsih pun
    menyambut dengan mendorong pinggulnya supaya penisku masuk ke tempat
    yang paling dalam. Sementara itu jempol serta telunjukku memilin-
    milin klitoris-nya, membuat Bu Darsih mengalami kenikmatan yang
    sangat dahsyat, sampai-sampai matanya mendelik, sementara desahan
    dan erangan keras silih berganti mengiringi orgasme yang
    dirasakannya.

    Spermaku menyembur deras di dalam lubang vagina Bu Darsih dan
    membanjiri rahimnya. Tubuhku menggeletak lemas di atas tubuhnya
    dengan batang penis yang masih terbenam di lubang vaginanya untuk
    beberapa waktu. Saat kucabut batang penisku, Bu Darsih kembali
    merenggut batang penisku dan memerasnya dengan begitu bernafsu,
    sehingga sisa-sisa sperma yang telah bercampur lendir vaginanya
    meleleh keluar dan langsung ditampung dengan lidahnya.

    Setelah kejadian yang mengejutkan dan menegangkan itu, kami
    melanjutkan acara berenang, sementara hubunganku dengan Bu Darsih
    berjalan seperti biasa. Bu Darsih tetap bersikap sebagaimana aku
    adalah majikannya. Hanya disaat istriku meleng, kami pun langsung
    bergelut setubuh di atas ranjang tanpa malu-malu dan tanpa basa-
    basi. Namun selain di ranjang, sikapnya terhadap diriku begitu wajar
    seperti sediakala, bahkan meskipun istriku sedang tidak di rumah,
    sikapnya tetap saja begitu wajar. Sama sekali tidak tercermin di
    wajahnya maupun di sikapnya kalau wanita paruh baya itu sebetulnya
    bandel dan sering bergelut senggama dengan diriku. Wajah liar penuh
    birahi, mata binal, senyum nakal dan kebuasannya hanya muncul saat
    berada di atas ranjang. Setelah semuanya selesai, dan kenikmatan
    telah direguk, sikapnya kembali wajar seperti sediakala.

    Bu darsih begitu profesional menjalani hubungan ini. Dan aku pun sangat menikmatinya yang membuat hari-hariku semakin bersemangat.
  2. # ADS
    Circuit advertisement
    Bergabung
    Always
    Posts
    Many
    BursaBet
     

  3. #2
    Korban Banci firdaus_brg's Avatar
    Bergabung
    Aug 2012
    Lokasi
    pondok gede
    Posts
    21
    mantab gan..
  4. #3
    Penjual Sex Toys
    Bergabung
    May 2011
    Lokasi
    jakarta
    Posts
    34,730
    bisa bikin croot ne gan,,,,..
    SaFe Sex.. oR No SEX aT aLL..
    BuT StiLL Fun aNd hEaLthY...
    visit : www.hk-toys.com
  5. #4
    Setengah Banci
    Bergabung
    Oct 2011
    Posts
    391
    Hebat punya pekerja all in
  6. #5
    Sumpah hampir sama gan ama kisah ane dulu...

Tags for this Thread

Agen Togel Nasional Online

WIGO Bet

Agen Judi Poker Domino 99 Online

Eyang Togel

Judi Poker Domino 99 ituQQ   Agen Judi Togel Online Asli4D   Pasang iklan banner